Selasa, 31 Januari 2012

Belajar Cara Sistem PQRST



Sistem PQRST adalah suatu cara yang diperkenalkan oleh EL Thomas dan Ha Rabinson dalam buku mereka yang bertajuk "Improving Reading In Every Class". Berikut adalah lima item yang menjadi tunjang sistem ini.

(a) Preview ( mengimbas Tajuk-tajuk Penting )
Dalam item ini pelajar disarankan agar melihat tajuk utama dalam sesuatu bab dan seterusnya melihat tajuk-tajuk kecil yang menjadi rangka dalam menggambarkan maklumat atau isi penting dalam keseluruhan bab.

(b) Question ( Menyoal )
Daripada rangka ini, bina soalan yang boleh membantu anda mencari isi penting. Dengan cara ini anda boleh mengingati sesuatu dengan lebih jelas.

(c) Read ( Membaca )
Membaca sesuatu tajuk akan menjadi lebih bermakna kerana setiap ayat menjawab soalan anda sendiri dari rangka topik.

(d) Self-Recitation ( Menyebut Satu Persatu )
Apabila anda sudah membaca, anda perlu mencatat atau melakar sesuatu gambarajah berkaitan dengan apa yang difahami. Kemudian baca isi penting itu semula tanpa melihat nota yang telah anda catatkan.

(e) Test ( Ujian )
Untuk memastikan anda sudah memahami dan mengingati fakta sebaiknya, anda perlu membuat penilaian kendiri. Dua cara boleh dilaksanakan iaitu melaksanakan ujian-ujian tahun lepas tanpa melihat rujukan dan menggunakan teknik soal jawab dengan bantuan rakan.

METODE PAKEM














Metode belajar aktif atau sekarang lumrah disebut sebagai metode PAKEM (pembelajaran kreatif, aktif dan menyenangkan) saat ini mulai dirasakan pentingnya dikalangan praktisi pendidik. Dikarenakan metode ini agaknya menjadi jawaban bagi suasana kelas yang kaku, membosankan, menakutkan, menjadi beban dan tidak membuat betah dan tidak menumbuhkan perasaan senang belajar bagi anak didik. Alih-alih membuat anak mau menjadi pembelajar sepanjang hayat yang terjadi malah kelas dan sekolah menjadi momok yang menakutkan bagi siswa.

Dulu saya pernah mendengar sebuah lelucon mengenai metode belajar aktif di sekolah dasar. Saya tidak ingat detailnya tetapi yang saya ingat dengan baik adalah dalam metode belajar aktif yang terjadi adalah guru bermalas-malasan, sedangkan yang aktif justru muridnya. Murid diminta untuk mencatat, menyalin dan dibebani banyak sekali pekerjaan rumah. Dengan demikian ada kesalahan dalam menerjemahkan pendekatan pembelajaran. Tidak mungkin tercapai nuansa PAKEM apabila siswa dalam hal ini malah terbebani sedangkan guru juga tidak tentu arah dalam melaksanakan dan merencanakan pembelajaran dikelas.
Cara belajar siswa aktif adalah merupakan tantangan selanjutnya bagi para pendidik. Sebab ruh dari KTSP yang diberlakukan sekarang ini adalah pembelajaran aktif. Dalam pembelajaran aktif baik guru dan siswa sama-sama menjadi mengambil peran yang penting.
Guru sebagai pihak yang;
  • merencanakan dan mendesain tahap skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan di dalam kelas.
  • membuat strategi pembelajaran apa yang ingin dipakai (strategi yang umum dipakai adalah belajar dengan bekerja sama)
  • membayangkan interaksi apa yang mungkin akan terjadi antara guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung.
  • Mencari keunikan siswa, dalam hal ini berusaha mencari sisi cerdas dan modalitas belajar siswa dengan demikian sisi kuat dan sisi lemah siswa menjadi perhatian yang setara dan seimbang
  • Menilai siswa dengan cara yang tranparan dan adil dan harus merupakan penilaian kinerja serta proses dalam bentuk kognitif, afektif, dan skill (biasa disebut psikomotorik)
  • Melakukan macam-macam penilaian misalnya tes tertulis, performa (penampilan saat presentasi, debat dll) dan penugasan atau proyek
  • Membuat portfolio pekerjaan siswa.
Siswa menjadi pihak yang;
  • menggunakan kemampuan bertanya dan berpikir
  • melakukan riset sederhana
  • mempelajari ide-ide serta konsep-konsep baru dan menantang.
  • memecahkan masalah (problem solving),
  • belajar mengatur waktu dengan baik,
  • melakukan kegiatan pembelajaran secara sendiri atau berkelompok (belajar menerima pendapat orang lain, siswa belajar menjadi team player)
  • mengaplikasikan hasil pembelajaran lewat tindakan atau action.
  • Melakukan interaksi sosial (melakukan wawancara, survey, terjun ke lapangan, mendengarkan guest speaker)
  • Banyak kegiatan yang dilakukan dengan berkelompok.

Pendidikan Nasional dan “Virus U1N1”

kartun-blog

ujiannasionalsmp

Sebuah fakta
FJ Siswanto: “Sembilan belas siswa Seminari (sekolah pendidikan pastur) Blitar bergabung dengan SMAN Blitar dalam Ujian Nasional SMA tahun 2009. Mereka bingung saat mendapati guru dan murid saling contek pada waktu ujian”.
Hal diatas hanya sebuah contoh yang mengindikasikan bahwa pendidikan nasional perlahan tapi pasti semakin menurun kualitasnya. Faktanya adalah:
1. Semakin tinggi pendidikan, semakin mudah menganggur. Bahwa pendididkan di Indonesia menjadikan kalangan terdidik semakin tidak mandiri.
2. Ujian membutuhkan pengawas independen, dengan alasan guru yang ada masih kurang bisa dipercaya. Tidak ada kata yang pas untuk menggambarkan hal ini selain “gagal, gagal total” karena para guru dianggap sudah tidak bisa menjadi teladan. Tidak hanya itu, bahwa dengan adanya pengawas independen biaya ujian nasional mengalami pembengkakan. Di Jawa Timur biaya pengadaan pengawas mencapai 40 miliar rupiah.
3. Pasar ekonomi, politik, dan budaya yang tidak sehat. Ini terbukti bahwa indonesia adalah negara konsumsi, negara terkorup, dan juga maraknya pornografi di Indonesia.
Why?????
Ini terjadi karena
  1. Pendidikan Indonesia terlalu formalistik yang seolah-olah hanya terbatas pada sekolah dan ijazah.
  2. Sekolah hanya menjadi tempat guru mengajar, bukan tempat peserta didik untuk belajar. Target-target statistik pendidikan telalu dipaksakan, misal dengan menaikkan batas kelulusan tanpa melihat bakat siswa di bidang selain mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional.
  3. Peserta didik dipaksa untuk menyesuaikan kurikulum, ini artinya sistem pendidikan Indonesia gagal dalam mengenali potensi peserta didik.
  4. Sekolah dan guru tidak tertarik dengan bakat dan minat murid yang beragam.
  5. Pendidikan bahkan mengasingkan murid dari kehidupan sehari-hari.
    Padahal, belajar adalah proses memaknai pengalaman individual yang unik.
  6. Ujian Nasional dijadikan alat pemacu dari ukuran mutu pendidikan.
  7. Pembelajaran hanya diarahkan untuk menyiasati ujian-ujian. Ini yang menyebabkan maraknya lembaga bimbingan belajar. Bahkan sampai-sampai lembaga bimbingan belajar dianggap lebih baik daripada sekolah.
  8. Ujian Nasional menegaskan sikap pemerintah yang meremehkan guru sebagai profesi.
  9. Ujian Nasional (UN) menjadi “virus U1N1” laten yang menggerogoti kinerja sistem pendidikan nasional.
  10. IKIP meninggalkan misinya mendidik calon guru, terbukti dengan banyaknya IKIP yang berubah nama menjadi universitas dengan alasan tuntutan kondisi.
  11. Tapi, eks IKIP asyik dengan proyek-proyek sertifikasi guru.
  12. Anak-anak Indonesia paling berbakat tidak memilih IKIP, lulusan IKIP yang terbaik tidak mau menjadi guru.
So WHAT??????
Solusinya adalah:
  1. Pendidikan harus berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
  2. Sekolah lebih non formal, kurikulumnya menyesuaikan kebutuhan murid.
  3. Guru terampil membantu murid menemukan bkekuatannya.
  4. Guru menjadi inspirator bagi murid agar menjadi manusia yang merdeka, kreatif, inovartif.
  5. Belajar tidak diorentasikan pada ujian, tapi pada penguasaan kompetensi-kompetensi dasar yang penting.
  6. Pemerintah dari waktu ke waktu melakukan sample based untuk mengetahui bagaimana kualitas pendidikan kita jika dibanding dengan negara lain, sekaligus juga melihat perkembangan pendidikan nasional.
  7. Mempertajam akreditasi sekolah dan meningkatkan profesionalisme guru.
Sumber tulisan:
Diskusi bersama Ir. Daniel M. Rosyid, Ph.D.
(Ketua Dewan Pendidikan Jatim)