Sebuah fakta
FJ Siswanto: “Sembilan belas siswa Seminari (sekolah pendidikan pastur) Blitar bergabung dengan SMAN Blitar dalam Ujian Nasional SMA tahun 2009. Mereka bingung saat mendapati guru dan murid saling contek pada waktu ujian”.
Hal diatas hanya sebuah contoh yang mengindikasikan bahwa pendidikan nasional perlahan tapi pasti semakin menurun kualitasnya. Faktanya adalah:
1. Semakin tinggi pendidikan, semakin mudah menganggur. Bahwa pendididkan di Indonesia menjadikan kalangan terdidik semakin tidak mandiri.
2. Ujian membutuhkan pengawas independen, dengan alasan guru yang ada masih kurang bisa dipercaya. Tidak ada kata yang pas untuk menggambarkan hal ini selain “gagal, gagal total” karena para guru dianggap sudah tidak bisa menjadi teladan. Tidak hanya itu, bahwa dengan adanya pengawas independen biaya ujian nasional mengalami pembengkakan. Di Jawa Timur biaya pengadaan pengawas mencapai 40 miliar rupiah.
3. Pasar ekonomi, politik, dan budaya yang tidak sehat. Ini terbukti bahwa indonesia adalah negara konsumsi, negara terkorup, dan juga maraknya pornografi di Indonesia.
Why?????
Ini terjadi karena
- Pendidikan Indonesia terlalu formalistik yang seolah-olah hanya terbatas pada sekolah dan ijazah.
- Sekolah hanya menjadi tempat guru mengajar, bukan tempat peserta didik untuk belajar. Target-target statistik pendidikan telalu dipaksakan, misal dengan menaikkan batas kelulusan tanpa melihat bakat siswa di bidang selain mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional.
- Peserta didik dipaksa untuk menyesuaikan kurikulum, ini artinya sistem pendidikan Indonesia gagal dalam mengenali potensi peserta didik.
- Sekolah dan guru tidak tertarik dengan bakat dan minat murid yang beragam.
- Pendidikan bahkan mengasingkan murid dari kehidupan sehari-hari.
Padahal, belajar adalah proses memaknai pengalaman individual yang unik.
- Ujian Nasional dijadikan alat pemacu dari ukuran mutu pendidikan.
- Pembelajaran hanya diarahkan untuk menyiasati ujian-ujian. Ini yang menyebabkan maraknya lembaga bimbingan belajar. Bahkan sampai-sampai lembaga bimbingan belajar dianggap lebih baik daripada sekolah.
- Ujian Nasional menegaskan sikap pemerintah yang meremehkan guru sebagai profesi.
- Ujian Nasional (UN) menjadi “virus U1N1” laten yang menggerogoti kinerja sistem pendidikan nasional.
- IKIP meninggalkan misinya mendidik calon guru, terbukti dengan banyaknya IKIP yang berubah nama menjadi universitas dengan alasan tuntutan kondisi.
- Tapi, eks IKIP asyik dengan proyek-proyek sertifikasi guru.
- Anak-anak Indonesia paling berbakat tidak memilih IKIP, lulusan IKIP yang terbaik tidak mau menjadi guru.
So WHAT??????
Solusinya adalah:
- Pendidikan harus berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
- Sekolah lebih non formal, kurikulumnya menyesuaikan kebutuhan murid.
- Guru terampil membantu murid menemukan bkekuatannya.
- Guru menjadi inspirator bagi murid agar menjadi manusia yang merdeka, kreatif, inovartif.
- Belajar tidak diorentasikan pada ujian, tapi pada penguasaan kompetensi-kompetensi dasar yang penting.
- Pemerintah dari waktu ke waktu melakukan sample based untuk mengetahui bagaimana kualitas pendidikan kita jika dibanding dengan negara lain, sekaligus juga melihat perkembangan pendidikan nasional.
- Mempertajam akreditasi sekolah dan meningkatkan profesionalisme guru.
Sumber tulisan:
Diskusi bersama Ir. Daniel M. Rosyid, Ph.D.
(Ketua Dewan Pendidikan Jatim)